Beberapa
bulan berlalu,istilah ini semakin enak diucapkan untuk hanya sekedar bersenda
gurau,membuat suasana menjadi hangat,mempererat hubungan antar individu yang
semula hanya akrab sebatas menyebutkan nama panggilan sebagai kata untuk
tegur-sapa.Tapi beberapa bulan juga kata ini semakin popular hanya untuk iseng
berkomentar di media social facebook.
Diucapkan
dengan sedikit cepat,kata wat peu? ini sebenarnya hanya sekedar
penegasan terhadap sesuatu yang membuat orang takjub,kagum,dan sebagainya.Kata
ini adalah potongan dari kata gawat dan
peu (wat = gawat ).Karena di ucapkan
cepat,kata yang semula gawat,hanya kedengaran wat-nya saja.Entah terdapat didalam kamus Basa Aceh atau tidak,kata
gawat ini sebenarnya berarti berbahaya.Namun disini,artinya
sedikit di miringkan,maksudnya bukan
berbahaya harus dihindari tapi bermakna sesuatu untuk respon terhadap
pencapaian yang mengagumkan.Kita juga bisa menyamakan istilah ini dengan kata
yang lebih familiar,yaitu gawat that,gawat that lagoe! Kedua
istilah ini adalah ungkapan orang Aceh untuk menyatakan kekaguman,ketakjuban
terhadap sesuatu keberhasilan atau bisa saja untuk merespon perbuatan ganjil
seseorang.
Ini
murni kata-kata,tidak demikian dengan ekspresi bunyi yang muncul menjadi kata-kata seperti ah, uh, ehm,huft,eaa,dsb.Lagi pula ini
adalah khazanah lokal yang harus dipopulerkan demi menjaga kelestarian budaya
daerah yang telah didominasi K-Pop atau sekedar bahasa gaul ibukota. Saya lebih
akrab dengan pengungkapan wat peu dari
pada bahasa gaul ibukota ala artis sinetron bersambung.Kadang kita masih
setengah-setengah dalam mencintai kebudayaan daerah.Yang paling absurd adalah ketika mempromosikan Banda
Aceh untuk dikunjungi,menjulang papan baliho dengan tulisan Visit Banda Aceh,apakah kata-kata Jak tajak menarik?
Kembali
ke wat peu,sebenarnya ada satu
ungkapan yang mendahului,yaitu wat en? Potongan
dari ucapan gawat ken? Permintaan
pendapat seseorang terhadap pencapaian dirinya.Kadang kata wat peu ini
diucapkan berulang-ulang dan diakhiri dengan tawa,menciptakan suasana hangat
antara dua orang yang sedang mengobrol.
Ketimbang memilih kata-kata gaul seperti
kamseupay yang menjadi semacam duta
yang dikirim ibu kota untuk menyeragamkan ekspresi daerah yang beragam,lebih
baik mempertahankan warna lokal seperti wat
peu ini,agar kesannya tidak monoton.Dan memberi peringatan bahwa daerah
tidak miskin khazanah yang harus tunduk kepada pusat,Indonesia berdiri atas
semboyan Bhinneka Tunggal Ika,bukan berarti kita harus meninggalkan budaya
daerah agar seragam dengan menyerap habis gaya hidup urban Ibukota Jakarta.Mari
berbahasa Aceh,atau bahasa Indonesia dengan aksen Aceh,tidak
ke-jakarta-jakartaan.
No comments:
Post a Comment