Pagi itu masih sangat muda sekali saat penginapan kami
didatangi dua sedan Proton. Kota Damansara telah terjaga sejak subuh, walaupun
ada beberapa warung kopi yang memang buka 24 jam. Setelah kemarin Bang
-Panggilan untuk lebih tua di semenanjung Melayu- Razi. Beliau membawa kami ke Majelis guru
Silat Melayu, sebuah majelis kebudayaan melayu sebagai tempat silaturrahmi
pegiat-pegiat budaya nusantara, hari ini beliau berjanji akan mengajak kami
untuk berpelesir ke Melaka, Bandaraya bersejarah.
Perkenalan kami dengan Bang Razi bermula dari media sosial
Facebook. Beliau adalah seorang pendiri sekaligus ketua dari organisasi HIKMAH
(Himpunan Melayu Akhir Zaman). Eratnya hubungan Aceh dengan Malaysia pada zaman
dahulu yang membuat kami seperti punya
ikatan batin dengan sejarah Melayu masa lalu.
“Bila kita berangkat
pagi dari Kuala Lumpur, kita bisa singgah di beberapa makam Raja di Malaysia”
kata beliau.
Sepanjang jalan yang
kami lalui, sangat jarang bertemu dengan kendaraan. Bang Razi mengatakan, tidak
banyak wisatawan yang ingin pergi ke Melaka dari Kuala Lumpur yang mengambil
laluan ini, karena bas yang berangkat dari Terminal Bersepadu Selatan mengambil
laluan melalui tol Ayer Keroh. Benar saja, ketika tiba di Lukut, Bang Razi
langsung berhenti di sebuah lahan berpagar tembok putih.
“Inilah Makam Diraja yang berada dibawah seliaan kerajaan
Selangor, Raja Jumaat yang pernah mengusahakan bijih timah disini 200 tahun
lalu” katanya.
![]() |
| Makam Diraja Lukut |
Penjaga makam turut menunjukkan satu makam diluar pagar
beton tadi, dia tidak ingat milik siapa tetapi menyatakan ia berumur 400 tahun.
Selepas itu kami meneruskan perjalanan. Sambil menyetir,
Bang Zam tidak henti-hentinya menanyakan perihal klasifikasi pakaian adat Aceh,
hal ini kebetulan karena kami memakai pakaian adat Aceh ketika terbang ke
bandara KLIA2 dari bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh dan tetap
memakainya saat berada di Malaysia. Jalanan yang kami lalui memang sangat
nyaman, dengan menikmati nyanyian melayu yang disetel Bang Zam dari radio
mobilnya. Selepas itu kami berhenti untuk minum di pantai Port Dickson atau
lebih dikenal dengan PD. “Saya berhasil
membawa kalian ke Pidi (ucapan untuk PD), tempat asal kalian” Bang Razi membuat
lelucon. Memang benar, kami tinggal di kabupaten Pidie, provinsi Aceh, dua jam perjalanan dari kota Banda
Aceh. Orang Malaysia menyebut pantai ini dengan sebutan pantai peranginan.Di
pantai ini kita bisa menikmati air kelapa muda sambil menikmati angin laut di
Teluk Kemang.
Perjalanan ke selatan diteruskan melalui laluan pantai,
kemudian belok sebentar ke arah darat untuk menziarahi makam lama dan melihat
batu-batu megalith di Pengkalan Kempas. Makam ini dikatakan milik seorang sufi
yang bernama Syeikh Ahmad Majnun yang hidup 600 tahun lalu. Menurut cerita Bang
Razi, karena taat mengamalkan ilmu tasawuf, hingga beliau dianggap gila, hal
itu yang disebabkan beliau di gelar Majnun (Majnun dalam bahasa Arab berarti
gila).
![]() |
| Makam Syeikh Ahmad Majnun |
Setelah mendengar kata-kata tentang Hang Tuah, kami jadi
penasaran dan bertanya kepada Bang Razi di mana pusara Hang Tuah. Beliau
kemudian memutar mobil ke arah kami berangkat kami tadi untuk singgah sebentar
di makam Hang Tuah yang rupanya hanya dua ratus meter dari tempat makan siang
kami.
| Makam dengan batu nisan Aceh di Melaka |
Diluar dugaan, kami menemukan beberapa makam dengan batu
nisan Aceh disini. Memang dibeberapa tempat di Malaysia bisa dijumpai banyak
batu nisan Aceh. Salah satu faktornya adalah karena jalinan kerja sama antara
kerajaan di Aceh dengan kesultanan-kesultanan di semenanjung melayu. Pihak
kesultanan di melayu memesan batu nisan dari Aceh yang diangkut dengan kapal
air ke Malaysia sekitar ratusan tahun lalu. Faktor kedua adalah banyak pahlawan
Aceh yang gugur saat membantu Kesultanan Melaka berperang melawan Portugis.
Hang Tuah adalah pahlawan pujaan orang Melaka, dia pembela kebenaran dijajaran
Kesultanan Melaka. Hang Tuah lebih dikenal bahkan daripada Sultan sendiri oleh
rakyat Melaka pada masa itu. Laluan Pantai juga mengharuskan kami singgah di
Mesjid Tengkera dan melawat makam Sultan Singapura, Sultan Hussin Shah
dibelakangnya. Kemudian baru ke Mesjid Kampung Hulu di Melaka untuk shalat dan
istirahat sebentar. Mesjid ini termasuk salah satu mesjid tertua yang dibina di
Melaka.
Dari Mesjid ini kami
berjalan kaki ke makam Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani, pengawal agama tertinggi
tertinggi di Aceh semasa Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh empat ratus tahun
lalu. Beliau ikut berangkat dengan armada Aceh membantu kesultanan Melaka
melawan Portugis di Selat Malaka, hingga wafat dan dimakamkan di Kampung Hulu,
Melaka.
![]() |
| Makam Syeikh Syamsuddin As-Sumaterani |
Dua tokoh ini
berangkat dari Aceh pada tahun 1512 Masehi bersama ratusan armada kapal perang.
Mengusir Portugis dari Selat Melaka, merupakan tujuan utama keberangkatan dua
tokoh ini, sehingga keduanya wafat dan dikuburkan di Melaka. Setelah memanjatkan
doa di makam Panglima Pidie, kami turun melalui pekuburan warga Tionghoa yang
terdapat disekitar lereng bukit,kemudian melanjutkan perjalanan. Tanpa punya
rencana ingin kembali menziarahi A Famosa atau Bukit Melaka, Bang Razi justru
membawa kami ke tempat yang jauh di Kampung Duyung. Disini terdapat sebuah
tempat yang asri, dinamakan Perkampungan Hang Tuah (Hang Tuah Center).
![]() |
| Makam Panglima Pidie, Melaka |
Di Perkampungan Hang
Tuah ini terdapat rumah-rumah tradisional yang terdiri atas satu rumah induk,
dan beberapa rumah yang tersebar di area tersebut. Disini juga terdapat satu
gelanggang tempat latihan pencak silat dan pacuan kuda. Dua olahraga yang
merupakan keahlian yang dimiliki oleh seorang Hang Tuah. Rumah kecil yang tersebar
dari satu rumah induk berjumlah lima rumah.Ini merujuk pada lima pahlawan
terkenal yang bersahabat. Hang Tuah, Hang Kesturi, Hang Lekiu, Hang Jebat, dan
Hang Lekir. Berangkat dari semua cerita tersebut, sebenarnya kisah Hang Tuah
masih menjadi sebuah kontroversi, apakah hanya sebatas cerita, atau merupakan
sejarah nyata.
![]() |
| Hang Tuah Centre, Perkampungan Hang Tuah, Melaka |
Keterikatan batin kembali terjadi ditempat ini, kami
diterima dengan ramah oleh para penjaga Hang Tuah Center. Padahal Perkampungan
tersebut sudah tutup untuk wisatawan, karena waktu telah menunujukkan pukul
17.00 waktu setempat, tapi kami diizinkan masuk untuk melihat beranda rumah dan
menikmati semilir angin yang berhembus ke Perkampungan tersebut. Waktu semakin
gelap, sebelum kami berangkat ke satu tujuan akhir di Melaka, yaitu komplek
makam Dato’ Arom, kami sempat membeli souvenir khas Melaka di Kampong Duyung.
Kemudian Bang Razi memberi isyarat untuk bergegas agar tidak terlalu malam tiba
di Kuala Lumpur.










Setau saya Hang Tuah sangat erat hubungannya dengan Kerajaan Demak dan Majapahit. Dan keberadaannya/ mkaamnya sampai sekarang tidak diketahui dimana. Tapi memang benar Aceh sangat dekat dengan Melaka dan Negeri Sembilan. Bahkan ada satu suku (suku Anak Aceh) yang kedua terbesar di Negeri Sembilan setelah suku Minang. IMHO
ReplyDelete