Sejarah manusia adalah kisah
terhebat yang pernah dituturkan, satu-satunya cara kita dapat memahami
sepenuhnya adalah jika kita mengungkapkannya bersama-sama.
Menggali masa lalu demi
keuntungan sudah ribuan tahun menjadi profesi. Pengadilan penjarah terawal di
Mesir yang diketahui terjadi di Thebes pada 1113 SM.Gerombolan penjarah yang
dipimpin tukang batu pemberani merampok makam yang dipahat pada batu. Si tukang
batu dan kaki tangannya divonis bersalah
dan mungkin dihukum mati dengan cara ditusuk.
Pasukan penyerbu juga pernah menggondol
benda kuno Mesir. Dari abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20, ketika Mesir
dikuasai bangsa asing, tak terhitung benda masa lalunya yang dikirim ke
pusat-pusat budaya di luar negeri melalui pemberian, perdagangan, atau
pemaksaan.
Penjarahan di Mesir meningkat
setelah dampak ekonomi global dan
revolusi 2011, ketika pasukan keamanan pemerintah menghilang. Sebagian
penganggur pun menjarah untuk bertahn hidup.Penjarah di Mesir itu berstruktur
seperti piramida tingkat empat. Tingkat dasarnya, mungkin tiga per empat tenaga
manusia, terdiri atas warga desa miskin yang pengetahuannya tentang medan dan
monument setempat itu penting untuk menemukan barang jarahan. Tingkat kedua
adalah perantara yang menampung benda dari penggali lokal dan mengatur pekerja
menjadi berkelompok. Pemain tingkat ketiga melarikan barang antik ke luar
negeri dan menjualnya ke pembeli asing di puncak piramida penjarahan. Laba
semakin tinggi ketika artefak menaiki tangga piramida. Sebagian penjarah tingkat
kedua menjual seharga 10 kali lipat dari
yang dibayarkan kepada penggali.
Baru-baru ini, penjarahan barang
peninggalan sejarah juga terjadi di Suriah. Sejak pecahnya perang bersaudara di
Suriah pada 2011, penjarahan melonjak ke tingkat yang merusak. ISIS
mengorganisasi dan mengatur penjarahan, menggunakan jarahan itu untuk membantu
membiayai operasinya. Pada Agustus 2015, pasukan ISIS menyalakan kamera,
melapisi tiang-tiang kuil Baaldshamin dengan
peledak, dan meledakkan bangunan yang berusia hampir 2000 tahun itu hingga
hancur berkeping. Ini salah satu dari daftar panjang perusakan budaya
sistematis yang dilakukan ISIS, didokumentasi dengan bangga dan dipajang di
media sosial untuk ditonton dunia. Konflik di Suriah diwarnai oleh kekejian tak
terperi, hukuman mati di depan umum, pemenggalan, penculikan, perbudakan, dan
pembunuhan atau pengusiran warga sipil, warisan budaya bersama di wilayah itu
merupakan salah satu dari sekian banyak korban konflik.
16 Mei 2015, Pasukan khusus AS
melakukan serangan malam di benteng ISIS, target mereka: Kepala Divisi Sumber
Daya Alam ISIS, Abu Sayyaf. Abu Sayyaf tewas dalam pertempuran yang menyusul,
tetapi pasukan AS menemukan informasi penting tentang cara ISIS memanfaatkan
barang antic untuk membiayai operasi mereka. Di pasar gelap, mereka menukar
artefak dengan senapan untuk membunuh dan meneror. ISIS juga mengeluarkan izin
tertulis perorangan spesifik untuk menggali di wilayahnya, memajak penjarah
untuk apapun yang diperolehnya. Situs-situs pun dirusak, penuh lubang dan
artefak berharganya dijarah habis. ISIS memandang harta ini, seperti harta di
Tadmur, sebagai cara untuk memaksakan ideologinya pada dunia dan secara
langsung membiayai kegiatannya. Dipihak lain dunia memandang harta ini sebagai
sejarah tak ternilai, warisan budaya bersama, yang hancur berkeping.
Ribuan kilometer dari Suriah,
penemuan batu nisan berukir di Aceh sedang maraknya. Tinggalan sejarah ini bisa
merekontruksi kembali kerangka sejarah
Aceh secara keseluruhan berdasarkan inskripsi yang tertulis pada batu nisan.
Sebuah organisasi masyarakat yang peduli kepada sejarah Aceh (MAPESA), secara
rutin melakukan gotong royong menyelamatkan artefak berharga sejarah Aceh.
Disamping itu, kolektor muda manuskrip Aceh, Masykur, dengan biaya sendiri
mencari manuskrip kuno yang diabaikan masyarakat untuk dikumpulkan dan bisa
jadi bahan penelitian terhadap sejarah Aceh secara mendalam.
![]() |
| Batu Nisan Aceh Foto: Facebook MAPESA |
Pada akhirnya, manusia punya dua
sifat yang saling bertolak belakang, sifat iblis dan malaikat. Mereka yang
mengikuti hawa nafsu untuk bertahan hidup akan menjual leluhurnya untuk
kekayaan. Mereka yang ingin mencari jati diri akan menemukan leluhur mereka
untuk diceritakan kepada anak cucu.




dan aceh juga tidak luput dari penjarahan bukan?
ReplyDeletebtw, bahasanya kok kayak terjemahan Bar? :D