Menonton film ini, mengembalikan memori saya. Ceritanya, tentang seorang Shay, yang tinggal bersama ayahnya menjaga toko reparasi piano klasik. Ibu Shay seorang penyanyi yang meninggalkan mereka untuk pergi ke London, memikirkan hidupnya sendiri, London Calling, sperti judul lagu The Clash. Film ini bersetting tahun 70-an di London, saat revolusi menuntut kesamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih. Sejarah ini memang unik, sejarah musik di London maksud saya, tidak jauh-jauh dari suppporter sepak bola. London memang tidak jauh dari Musik dan sepak bola. Aliran Skin Head, Punk rock juga menghiasi sepak bola Inggris. Katanya, musik di Inggris bisa menggerakkan perubahan. Seni adalah sesuatu. Saya masih ingat kisah salah satu personel The Beatles yang di keluarkan dari sekolah karena gila musik, akhirnya ibunya membeli ia sebuah gitar, saat itu pada masa perang dunia kedua. Dan kamu tahu sendiri bagaimana The Beatles dengan karya-karya mereka.
Trailer
Shay yang tinggal bersama ayahnya yang beraliran musik klasik, berubah setelah berjumpa dengan seorang gadis sebayanya di kereta api menuju ke London saat ingin membeli suku cadang piano untuk ayah. Vivian, nama gadis itu, mengajaknya ke konser The Clash. Shay punya seorang saudari putri yang lugu, yang akhirnya juga jadi seorang punker.
Isu sosial keluarga banyak dibahas di film ini. Namun yang menarik adalah karakter Shay, anak lima belas tahun yang sangat peduli kepada keluarga, dan berani melakukan hal-hal konyol.
Film ini cocok dinonton oleh penggila musik rock, punk, atau yang menyukai sejarah musik kota London. Kamu siap menggerak-gerakkan kaki saat menonton film ini?
Lets Rock baby

bagus tulisannya....
ReplyDeleteMakasih kak Ihan
ReplyDeleteBereh, mantan penggila punk rupanya,,hehe
ReplyDeletehahaha..tapi nye kalon aneuk miet jinoe di peu punk-punk droe roh teukhem
Delete