Terinspirasi dengan buku “Tutte Le Barzellette Su Totti”
atau Kumpulan Semua Lelucon oleh Totti, saya ingin membahas kebodohan dari
sudut pandang saya.Anda pasti tidak terima bila disebut orang bodoh atau sebagainya,ini
tabiat dasar manusia.Namun apa salahnya jadi orang bodoh.Bodoh memang berada
dibawah peringkat pintar,dari sisi manapun kita ingin meninjaunya.Bodoh
dicela,diperalat pintar,digunakan sebagai tameng,dikambinghitamkan.Entahlah,saya punya sisi berbeda dalam
melihat bodoh,pun tidak menentang
pendapat mayoritas tentang kebodohan.Dan Anda perlu tau, orang pintar
itu kelihatan bodoh ketika berusaha meyakinkan orang bahwa dia pintar.Dengan
cara apapun,mereka selalu kelihatan serius.Menganalisa kejadian,bahkan yang
sepele,dengan kepintaran mereka,sangat ilmiah.Disanalah kebodohan mereka.Mereka
sulit menertawakan keseriusan.Ini membuat urusan menjadi rumit.Nah,yang demikian tidak berlaku dalam
kultur Italia.
Francesco Totti,pesepak bola Italia,adalah salah satu contoh
dari demikian banyak orang bodoh Italia.Anda tidak setuju,silahkan.Namun
begitulah ceritanya.Intelejensia Totti pada kehidupan sehari-hari berbanding
terbalik dengan aksinya di lapangan.Anda setuju dengan hal ini.Totti adalah il capitano klub besar AS Roma,dia juga
pemain senior timnas Italia.Suatu hari,Istrinya
bertanya.”Apakah kamu pernah membaca Shakespeare?”.”Yeah,tetapi aku tidak ingat siapa yang menulisnya”Jawab
Totti.Ini adalah jawaban orang bodoh Italia.Bayangkan,dia tidak peduli bahwa
yang dibacanya itu adalah karya Shakespeare.Dan Totti tidak pernah peduli
dengan hal ini,jikapun Anda datang kepadanya dan mengatakan betapa bodohnya
dia,mungkin hanya senyuman dan rasa kaget sebagai responnya.Beginilah tipikal
orang bodoh.Tidak ada perbantahan,juga tidak mencari alasan untuk
berdebat,mereka sadar mereka bodoh.Tidak demikian dengan orang pintar,sebagian
besar orang pintar,yang sisanya mungkin tidak,bahkan harus berdebat untuk
menemukan titik penyelesaian suatu masalah,dan sebenarnya titik itu tidak
pernah ada.Saling menyerang,beradu argumen,mempertahankan ide dengan alasan
kebaikan.Ah,Anda pasti sama bosannya
dengan saya ketika menonton perdebatan calon pemimpin daerah di
televisi.Masing-masing punya cara tersendiri untuk mengambil hati calon
pemilih.Ini tipikal orang pintar.Memperalat orang bodoh.
Orang bodoh sebagian besar setia,yang sisanya mungkin
tidak.Mereka memiliki loyalitas yang dalam anggapan mereka,tak ada kelebihan
yang dapat mereka berikan kecuali ini.Anda bisa simak sejarah sepak bola Italia.Dimana
orang-orang bodoh seperti Totti pernah ditanya,”Anda ikon AS Roma,dan meraih
gelar bersamanya kecuali Liga Champion.Maukah Anda meninggalkan Roma untuk
mencari title dengan klub lain?”
“(tersenyum).Aku
cuma ingin berada di Roma,mengakhiri karier pada satu-satunya klub yang pernah
aku bela.Aku mencintai Roma sepenuh hati.Aku ingin meraih Liga Champion dengan
kostum kebanggaanku,merah dan kuning.
Tapi loyalitas macam ini tidak hanya di Italia,namun juga di
Inggris.Kenapa Steven Gerrard masih saja betah di Liverpool setelah lama puasa
gelar?mungkin juga dia orang bodoh,orang yang begitu mencerna ucapan Bill
Shankly,manajer legendaris Liverpool
1981.”Hanya orang bodoh yang mengerti sepakbola,mereka memainkannya
dengan hati,tidak dengan ambisi.
Atas kebodohannya juga Totti terlepas dari catatan buruk
sepak bola.Tidak ada atau mungkin jarang pemberitaan miring tentangnya.Inilah
sisi saya,Anda boleh tidak setuju,tapi satu pertanyaan buat Anda,apa salahnya
jadi orang bodoh?Bodoh asal jujur lebih baik dari pintar tapi brengsek.
yang ini saya sukkaaaa ☺☺☺
ReplyDeleteTerima kasih kak Marni. Baru liat komentar Kak Marni
Deletesangaaaaat
ReplyDelete